Jumat, 20 November 2009

Burung Stress Berkicau Lebih Baik



Lingkungan yang semakin keras, tak bersahabat dan cuaca tak menentu bisa jadi menjelaskan beberapa burung menjadi pengicau paling baik daripada yang lain. Tak sekedar soal berkicau, kemampuan mencari pasangan dan belajar menjadi superior juga bertambah, demikian menurut sebuah studi yang dilakukan baru-baru ini.

Studi tersebut menitikberatkan kajian skala besar terhadap burung kolibri di habitat berbeda dan merupakan kolaborasi periset dari Pusat Sintesa Evolusioner Nasional (NESCent) di Durham, Carolina Utara, Lab Ornitologi Universitas Cornell, dan University McGill.

"Ketika lingkungan lebih tidak terprediksi dan beragam, nyanyian burung menjadi lebih bervariasi," ujar Carlos Botero, peniliti paska doktoral di NESCent, seperti yang dilansir oleh Discovery.com

"Daya hidup dan reproduksi menjadi lebih rumit ketika pola cuaca menjadi tak menentu karena mereka tidak tahu kapan makanan akan tersedia dan berapa lama akan tersedia di sekitar," katanya.

"Dan untuk burung-burung betina, konsekuensi untuk memilih pasangan hidup berkualitas sedang, menjadi luar biasa di iklim yang lebih keras," imbuhnya.

Alasan utama pejantan Kolibri menyanyi adalah untuk memikat pasangan, sehingga kemampuan berkicau superior menyatakan jika seekor pejantan itu berkualitas baik, demikian menurut Carlos.

Tak hanya itu, menurut Carlos, kicauan lebih rumit juga menunjukkan jika si penjantan cenderung membawa sedikit parasit dan memiliki keturunan yang juga cenderung bertahan.

Burung jenis berkicau tidak dilahirkan untuk tahu bagaimana berkicau, dan harus mempelajari nyanyian dalam hidupnya. Carlos dan koleganya meyakini jika kemampuan belajar berkicau itu tanda akan kemampuan belajar hal lain lebih luas.

"Burung yang bernyanyi lebih baik memberi tahu yang lain, paling tidak secara tidak langsung; Hei saya pembelajar yang baik," ujar Carlos.

Carlos meriset dan mencari arsip suara kicauan di penjuru dunia dan bepergian dari bagian bumi selatan untuk merekam kicau burung di alam liar, serta menyimpan hampir 100 trek dari 29 jenis spesies Kolibri.

Kemudian, ia menggunakan program komputer untuk mengubah setiap rekaman suara menjadi grafik suara, lalu membandingkan pola tersebut dengan pusat data temperatur dan kelembaban di mana suara burung diambil. Studi tersebut telah terbit dalam jurnal Current Biologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar atas topik ini.